Buku dan Sebuah Kisah yang Tak Pernah Tertuturkan
- Ahlam Aliatul

- 14 Apr 2022
- 3 menit membaca

Beberapa bulan ini, ada beberapa buku yang ingin saya baca. Beberapa diantaranya sungguh susah untuk dicari, baik secara online apalagi offline. Di dekat tempat kerja saya yang baru, ada sebuah pasar buku yang cukup besar, tapi setelah berputar-putar, buku itu tidak ada di sana. Mm.. sebetulnya bukannya sesusah itu, mungkin, saya saja yang awam tentang seluk beluk pertokobukuan khusunya di dunia maya. Saya sudah coba tanya di beberapa toko buku online, tapi hasilnya nihil. Pernah sekali ada satu toko, yang diantara koleksi mereka, terdapat buku yang ingin saya beli, tapi karna saya terlalu lama mikir, buku itu lalu sold out. Menyesal sih, rasanya. Tapi hari ini, setidaknya ada langkah bagus yang saya buat. Saya memutuskan untuk men-checkout satu diantara buku-buku yang terus saya pikirkan itu.
Membeli buku, bagi saya, adalah sebuah kemewahan yang jarang bisa saya nikmati ketika masih kuliah dulu. Ya, saya tahu, itu memalukan sih, karna saya tahu banyak sekali teman-teman saya yang juga miskin (waktu itu), bisa-bisanya punya koleksi buku bejibun. Sungguh, apakah ini hanya soal uang? Benarkah?
Pada kenyataannya, membeli buku memang perkara uang. Buat orang-orang macam saya, buku bukan barang murah. Iya saya tahu, ada pasar buku bajakan dekat kampus. Kalian bisa nawar hingga pada harga poooool murahnya. Jalan 15 menit saja sampai, bahkan tidak perlu pesan ojek online untuk ke sana. Tapi rasanya lain, kan? Aduh, bukannya saya nggak pernah beli buku bajakan, sering kalau lagi kepepet, tapi tidak semua buku dijual di sana. Dan buat saya pada waktu itu, lebih baik beli kentang dan bawang merah untuk dimasak sehari-hari. Saya nggak akan menjelaskan seperti apa kondisi keuangan saya waktu itu, tapi saya tahu diri. Mencoba tahu diri kalau uang bulanan saya tidak saya usahakan sendiri, tapi dari orang tua saya ā yang saya tahu sungguh telah berupaya pada tingkat saya tidak mampu meminta lebih lagi.
Tapi, kalau boleh jujur, perkara uang adalah persoalan nomor dua buat orang-orang yang memang hobi baca buku. Persoalannya, apakah saya hobi baca buku? Nah! Ini sungguh sulit saya jawab, karna waktu itu, saya pernah berada pada masa dimana saya nggak kepikiran sama sekali untuk beli buku. Selain karna uang, pada bagian masa itu, orientasi hidup saya berbelok cukup mengerikan.
Awalnya saya meruwat alam pikiran saya dengan memasuki lingkungan dimana diskursus berkembang. Saya pelan-pelan membangun fondasi membaca saya dari hal yang paling dasar dan di sana saya belajar pada mulanya. Awalnya pinjam buku di perpustakaan karena nggak perlu keluar ongkos āakhirnya pun harus bayar denda karena telat mengembalikannyaā atau pinjam buku dari teman. Jujur itu pola yang lebih sering saya lakukan ketimbang beli buku sendiri. Sesekali saya mengusahakan buat beli buku ketika ada bazar di kampus. Lalu pada suatu masa yang saya tidak pernah bayangkan, wuussshhh.. seperti lintasan kereta api, hidup saya berubah.
Sebenarnya, ibarat lintasan kereta api itu, dari kejauhan saya sudah tahu saya bakal menghadapinya juga. Saya tahu fase itu akan datang. Tapi saya tidak siap. Sungguh tidak siap. Ketidaksiapan itu membuat saya kaku, tidak bisa bergerak. Yang saya lakukan justru lari pada hal-hal yang selalu ingin saya upayakan, yang melebihi tugas-tugas kuliah saya dan selalu itu yang disalahkan oleh ibu saya. Padahal sebetulnya, saya tidak dengan sengaja meng-ada-adakan hal-hal itu. Hal-hal itu dengan cara yang memang sudah semestinya, hadir di depan mata saya. Saya akan sangat menyesal jika membuang kesempatan itu. Sungguh, itu bukan alasan yang tepat untuk digunakan dalam apologi-apologi kegagalan saya. Semua itu, lahir karena kesalahan saya sebagai seorang manusia biasa.
Sampai saat ini, saya mengakui saya salah atas terciptanya masa-masa yang gelap itu. Tidak ada yang patut disalahkan selain hanya saya sendiri. Waktu itu, sebetulnya saya punya kesempatan untuk menghindari itu semua agar tidak terjadi, tapi tidak mampu saya lakukan. Ya, sebetulnya saya punya pilihan waktu itu, tapi terlambat merunutkan pikiran.
Sampai pada saat-saat yang paling gelap itu, saya bertahan sekuat yang saya mampu. Mengumpulkan kewarasan yang tersisa dan memperbaiki apa-apa yang bisa diperbaiki. Hingga saat saya menulis ini, sebuah tulisan panjang pertama saya (selain puisi dan skripsi) yang saya tulis setelah bertahun-tahun berlalu. Dan ābuku-bukuā itu adalah justru yang terpikirkan pada saat-saat yang bermakna ini. Kenapa sampai bermakna dan terkesan berlebihan, sih, untuk ukuran menulis tulisan ākamarā yang personal ini? Ah, kamu lebay, deh! Oke, memang ini berlebihan, tapi kamu tahu nggak apa yang harus aku lalui dulu selama bertahun-tahun hingga sampai tulisan ini rampung? :)
*Ditulis pada 30 Desember 2019
Komentar