Bunga Kemboja Itu Kuning, Tapi Hari Ini Kelabu
- Ahlam Aliatul

- 23 Des 2021
- 4 menit membaca

Bandung, 14 Desember 2019.
Sepasang mata basah menatap layar komputer. Suara sesenggukan sekuat tenaga Ia tahan, tidak ingin teman kantornya sampai tahu. Di telinganya terpasang earphone dan terdengar lagu Dari Hati dari Club Eighties dari sana. Lea memang sering kali terbawa suasana oleh sebuah lagu. Tapi Ia jarang sampai seperti sekarang. Dadanya sampai sesak seolah tidak mampu menampung segala kesedihan. Dalam benaknya hanya ada satu orang dan pertanyaan apakah Ia baik-baik saja sejak semalam?
----
Jakarta, 14 Desember 2019.
Jakarta hari itu sungguh terik, seperti biasa. Di atas bakal gedung perkantoran lima lantai itu riuh oleh suara-suara manusia. Pekerja konstruksi bekerja bergilir antara pagi-sore dan sore -pagi. Denta seharusnya pulang sore itu, tapi Ia memilih tetap tinggal di proyek. Dia ingin terus-terusan bekerja dan tidak menyisakan ruang di pikirannya untuk kesedihannya. Dia tidak ingin kewarasannya habis dan berakhir mabuk-mabukan semalaman. Sebab, Ia telah berjanji akan berhenti mabuk untuk alasan apapun. Ia telah berjanji pada satu nama, perempuan itu.
---
Bandung, 13 Desember 2019.
āButuh penjelasan apalagi?ā. Tidak sampai 3 menit pesan itu kemudian dibalas oleh lawan bicaranya. Tapi Lea sungguh takut dengan apa yang akan ditulis oleh laki-laki itu.
āSebenarnya aku kurang apa?ā
āKamu ngga kekurangan apapun, mas. Dalam hal ini aku yang bersalah.ā
āPlease, lah. Ini bukan soal salah siapa. Aku cuma butuh alasan yang masuk akal.ā
āNgga ada masa depan buat kita. Aku ngga bisa mas.ā
āPersetan dengan masa depan. Kamu tahu apa soal masa depan? Pernah ngga kita coba dulu sebelum kamu bilang gitu?ā
āAku tahu ending-nya bakal kayak gimana. Kenapa kita harus sakit kalau kita bisa mencegahnya?ā
āAku ngga pernah ngerti maksud kamu.ā
āKalau belum dicoba kita ngga akan tahu hasilnya.ā
āAku bisa berusaha. Semuanya masih bisa dirubah.ā
āHarus bagaimana lagi aku menjelaskan.ā
āMas, aku ngga mau kamu terluka lebih banyak lagi. Tolong lupakan aku dan temui wanita lain.ā
āSelama ini aku sungguh selalu menyakiti kamu.ā
āPadahal Mas selalu memberi banyak hal yang berarti, tapi aku yang akhirnya ngelukain kamuā
āSekarang kasih aku sesuatu yang bisa bikin aku mengerti, Lea. Kenapa malam ini aku ditolak seperti malam-malam sebelumnya?ā
āAku selalu bilang kalau Mas Denta adalah kakakku.ā
āAku ngga butuh adikā
āKalau begitu teman!ā
āTemanku terlalu banyakā
āKamu keras kepalaā
āApa karna aku orang yang kotor dan banyak dosa? Kamu jelas tahu maksudkuā
āPadahal kamu tahu, selama ini aku selalu bisa menerima segala realitas kamu.ā
āBeri aku alasan yang bisa aku terima, Lea.ā
āItu akan tambah menyakitimuā
āAkan lebih sakit jika ini berakhir tanpa kejujuranā
āKatakan saja, toh pada akhirnya ini akan menyakitiku juga.ā
āSakit atau tidak, biar menjadi urusanku.ā
āAku tidak mencintaimu, Mas.ā
āOh begitu, ya.ā
āKamu yang memaksaku mengucapkannya. Kamu selalu tidak menerima.ā
āSedalam apapun aku berupaya memikirkannya, aku tetap ngga bisa membayangkan kamu sebagai laki-laki.ā
āBaiklah. Malam ini aku akhirnya hancur.ā
āAku sungguh menyayangi Mas Denta. Sangat menyayangi.ā
āTidak perlu. Aku cuma butuh cinta perempuan dari diri kamuā
āKenapa kita berakhir begini, mas? Maafkan aku.ā
āAku selalu berharap kalau kita akan tetap bersama.ā
āMas Denta sangat berarti buat aku.ā
āAku hancur, Lea. Aku benar-benar hancur malam ini.ā
āApa kamu kira perjuanganku untuk memilikimu hanya sebulan-dua bulan? Tidak, Lea. Ini sudah dua tahun.ā
āTernyata sebaik apapun aku mencoba, aku selalu kurang. Aku orang tolol. Aku merasa sangat hinaā
āMas sudah. Jangan begini. Aku sudah cukup menyalahkan diri sendiri.ā
āKamu ngga salah, Lea. Aku yang salah karena aku yang kurangā
āCukup!ā Sampai detik ini, tangisnya akhirnya pecah. Dibenaknya, Ia adalah orang yang sangat jahat, telah menyakiti seseorang yang Ia tahu begitu mencintainya. Ia telah mendorong begitu jauh, seseorang yang begitu Ia inginkan bertahan dalam hidupnya. Sebenarnya Denta itu siapa buat dirinya? Lea lagi-lagi terjebak pertanyaan yang sama.
āBiarain aku sendiri malam ini, Lea. Kamu ngga perlu khawatir.ā
āAku tidak pernah ingin membuang kamu, Mas. Kamu tahu aku sangat menyayangi kamuā.
---
Bandung, 14 Desember 2021.
Lea kembali membaca percakapan-percakapannya dengan Denta. Pesan yang tersisa dan sengaja ia sisakan, agar menjadi kenang-kenangan. Baris paling atas adalah sebuah puisi rupanya. Itu adalah puisi favoritnya. Ia menyalinnya pada lembar milik Daniar, buku hariannya. Khawatir jika sewaktu-waktu pesan-pesan itu hilang dan jejak-jejak syair Denta juga ikut hilang. Bertahun-tahun dia membaca puisi itu tapi tetap berhenti di pertanyaan yang sama? Siapa perempuan yang dimaksud Denta dalam puisi itu? Mungkinkah itu dirinya? Ibunya? Atau seseorang yang acak saja?
Ia tersenyum-senyum sambil mengulur layar ke atas. Bagaimana bisa Ia terdengar begitu konyol di sebagian besar pesan-pesan itu? Bertahun-tahun dan akhirnya Ia tahu maksud dari nasihat-nasihat Denta itu. Kalau dia jadi Denta, mungkin ia sudah membanting hapenya waktu itu. Lea sangat bebal ketika itu. Tapi itu jadi kenangan lucu dan memalukan sekaligus.
Selagi membaca itu, semua kenangan tentang Denta muncul. Ia teringat warung kopi pinggir kuburan yang dulu sering Denta datangi. Ia sering bertemu dengannya di sana karena tempat itu begitu dekat dengan tempat tinggalnya ketika kuliah dulu. Warung itu sangat sederhana dengan hiasan bunga-bunga kemboja kuning yang tumbuh liar dari balik pagar kuburan. Lalu kepalanya berganti memutar adegan. Saat itu Denta baru saja sidang skripsi dan bagaimana akhirnya mereka berfoto bersama.
Ingatan itu berhenti. Minggu lalu ia tahu bahwa Denta telah memiliki seseorang. Kali ini seseorang itu bukanlah perempuan yang menolaknya sekaligus merengek agar tidak ditinggalkannya. Dia benar-benar orang yang Denta cari. Setidaknya itu yang Lea harapkan. Lea tahu ini akan terjadi dan tidak apa-apa. Lea akan bahagia mengetahui Denta juga bahagia. Jadi Ia menulis puisi balasan untuk Denta sebagai tanda terimakasih. Puisi itu kini milik Daniar.
---
Jakarta, 15 Januari 2019.
Cinta adalah empat stanza dalam satu baris
Kau dan aku saling mencintai
Dalam satu ritmis
Tapi luruh dalam gerimis
(Ditulis oleh seseorang dari masa lalu pada keruhnya Kota Jakarta).

Komentar