Gugur
- Ahlam Aliatul

- 23 Des 2021
- 1 menit membaca
Agustus bulan yang kering. Angin yang kering. Udara begitu dingin.
Mega bolak balik mengetik lalu menghapus sebuah teks di ponselnya. Sebuah pesan ke seseorang yang terakhir Ia hubungi 4 tahun silam. Sepagi ini Ia sudah hilang akal rasanya. Tiba tiba pintu dibuka dan temannya, Lenong, mengejutkannya untuk menyuruhnya lekas mandi.
"Dias, apa kabar?" Teks itu entah bagaimana terkirim. Mega bukan hanya terkejut, tapi juga lemas.
***
Di depan laptop, seorang laki-laki dengan kacamata besar sibuk membuat review buku. Ia tahu ia harus lekas, karena tumpukan kertas yang dijilid asal-asalan di bawah mejanya itu tengah menunggunya untuk dikurasi atau entah apa sebutannya.
Sekejap ia melihat ponselnya yang menyala. Ia tidak peduli dan siapa juga yang ingin peduli pada sebuah pesan yang sungguh tidak penting di jam-jam sibuknya?
***
Pukul 01.00 lewat tengah malam.
Aku pikir ini adalah revisi terakhir. Mega membaca sekali lagi untuk meyakinkan diri. Benar, ini yang akan aku katakan kepadanya, Mega membatin.
***
Agustus. Bulan yang kering. Angin yang kering. Tapi senja begitu cantik hari ini.
Mega menangis. Pikiran-pikiran buruk yang beberapa hari ini menghantuinya terbukti tidak benar. Dias adalah laki-laki baik seperti yang selalu ia rasakan. Ia yang tidak mungkin mengganjarnya dengan kata-kata buruk hanya karena Ia menolak sebuah pengakuan cinta.
Mega sadar ini adalah cara terbaik menandaskan rasa sakit yang Ia pendam selama 5 tahun terakhir. Hatinya luruh menyadari cintanya telah tamat. Sekaligus begitu bahagia, sebab sakitnya adalah demi seseorang yang begitu pantas, yang memberikannya sebuah tamat yang sungguh pas.
***
Agustus. Bulan yang kering. Angin yang kering. Tapi di suatu sore itu, Agustus terasa begitu basah, sebab Ia berjanji ini adalah terakhir kalinya. Setelah itu, Ia tidak pernah menangis lagi.


Komentar